Inovasi & Kreativitas

Kreatifitas dan inovasi.

Sebagai pembuka, masing masing definisi linguistik dengan sumber terpercaya mungkin akan lebih baik.

Kreatifitas, adalah suatu fenomena penciptaan hal baru yang bernilai.

Inovasi (dari bahasa latin innovare) berarti proses pembaharuan atau perubahan ke arah positif.

Bagi saya, kreatifitas dan inovasi selalu bermulai dari wadah.

Kedua hal ini membicarakan secara garis besar proses pembaharuan, dan pembaharuan selalu berarti adanya alih fungsi baik amat kecil maupun besar. Wadah, menjanjikan sebuah medium untuk proses ini bisa diberikan subjeknya. Karena kreatifitas dan inovasi adalah bentuk kreasi. Dan kreasi selalu butuh makhluk pelaksana.

Lalu, amat penting untuk keberlangsungan wadah ini, agar kreatifitas bisa menemukan kontekstualisnya. Simpelnya, sebagai mahasiswa SBM kami selalu ditekankan untuk membangun inovasi yang ‘menjual’, kreasi yang layak beli. Pada nyatanya, kelayakan tidak selamanya harus ditelantarkan pada kantong atau selera pasar. Ada pula bentuk kreasi yang patut di apresiasi, tanpa dilabeli harga. Dan harus ada program berkesinambungan yang mampu melakukan silang penghidupan dari kreasi yang diterima dengan baik di masyarakat (menghasilkan banyak uang) pada bentuk lain yang tidak.

Kreatifitas tidak seperti budaya. Budaya menuntu keselarasan dengan masyarakat. Dan ketika sang budaya mulai kehilangan nilai kesesuaiannya, layak saja budaya tersebut ditinggalkan, terganti oleh bentuk lain yang lebih kekinian. Tapi kreatifitas butuh terus disokong kehidupannya. Kepunahan sejenis bentuk bisa berarti berkurangnya ragam, yang kemudian berdampak penuh pada jumlah kolektif keseluruhannya.

Pertama wadah sebagai titik awal, lalu keholistikan sebagai formasi. Itulah kreatifitas dan inovasi. Bukan budaya yang dihitung baik buruknya berdasarkan kesesuaian (tak terikat kuantitas), kreatifitas akan lebih kuat jika secara jumlah lebih banyak, lebih lengkap, dan menjanjikan banyak alternatif.

Kreativitas & Inovasi

Kreatif dan Inovatif seperangkat kata yang kini  mungkin menjadi satu padanan kata. Kami akan mencoba mengartikan kata kreatif dan inovatif. Berikut arti kedua kata tersebut menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia,  kre·a·tif /kréatif/ a 1 memiliki daya cipta; memiliki kemampuan untuk menciptakan; 2 bersifat (mengandung) daya cipta: pekerjaan yg — menghendaki kecerdasan dan imajinasi;

ke·kre·a·tif·an n perihal kreatif.

ino·va·tif a bersifat memperkenalkan sesuatu yg baru; ber-sifat pembaruan (kreasi baru): kita mencoba memecahkan masalah pendidikan yg kronis dng cara-cara -.

Berdasar perngertian dari KBBI dikatakan bahwa arti dari kreatif adalah memilki kemampuan daya cipta. daya cipta akan apa? Semua hal, karena ketika kita mampu menciptakan “sesuatu” bahkan hanya sebuah imajinasi sudah dapat disebut sebagai orang kreatif. Sifat dari kata kreatif  inilah yang ingin kami berikan opini. “Kreatif” sendiri memiliki sifat yang sangat subjektif, bagaimana bergantung pada pandangan setiap individu. Apa yang menjadi standard suatu hal bagi kami akan penilaian ke-kreatifan dengan anda akan berbeda. Mengapa? Karena stadard akan nilai kreatif itu muncul dari pengetahuan dan pengalaman kita. Dan bila muncul pemahaman yang sama antar banyak individu atau kelompok, didasarkan pada pengetahuan dan pengalaman mereka yang hampir sama.

Oleh Karena itu menurut kami kreatif itu muncul ketika kita banyak tahu dan banyak mencoba, karena dengan itu lah kita dapat memiliki masukan dan mengimplementasikannya maka kita akan mendapat pengalaman yang berbeda dan disitulah taraf  kekreatifan akan meningkat.

Kreatif sendiri memiliki kaitan yang erat dengan kata inovatif. berdasar arti dari KKBI adalah sifat memperkenalkan sesuatu yang baru dan bila menjadi kata kerja “inovasi” maka arti dari kata tersebut adalah kemampuan menciptakan sesuatu yang baru. Sama seperti “kreatif”, “inovatif” pun menjadi kata yang subjektif. Karena kata “baru” sangatlah tergantung pada setriap individu, walaupun tetap suatu kelompok dapat memilki pandangan yang sama akan menilai sesuatu yang “baru”.  Kembali pada beberapa individu atau kelompok yang telah memiliki pengetahuan dan pengalaman yang hampir setara/sama. Kata “inovatif” atau “inovasi” menurut kami tidak ada yang murni di bumi ini. Apa para penemu jaman dulu merupakan orang yang paling inovatif? Alexander Graham Bell dikatakan sebagai penemu telepon. Apakah itu benar hanya iya yang mampu berfikir dan mencipta alat yang bernama telepon? Ternyata dari beberapa literatur sekarang muncul perdebatan siapa yang sebenarnya menemukan telepon, dikatakan bahawa ada orang lain yang telah menemukannya sebelum Alexander Graham Bell. Lalu apakah ALexander Graham Bell hanya mempopulerkannya? Tak mungkinkah iya mereka (yang dinyatakan telah menemukan telepon) berada ditempat yang berbeda dan befikir untuk mencipta suatu kreasi dan alat yang sama? Jawabannya sangat memungkinkan! Oleh karena sifat kata “kreatif dan Inovatif” tak akan ada ujungnya bila mencari siapa yang paling kreatif dan inovatif siapa yang terlebih dahulu atau siapa yang mencontek dan siapa yang tidak.

Merangkum pernyataan diatas, solusi dari permasalahan “kreatif dan Inovatif” adalah permasalahan target dari siapa yang akan menerima atau menikmati karya cipta tersebut. Misal kita membawakan gunting pada penduduk suku pedalaman maka kami rasa itu kita akan dianggap sebagai orang yang paling kreatif dan inovatif diantara mereka. Contoh lain, apa pendapat anda mengenai lukisan yang “abstrak” atau berisikan cat yang dicorat-coret pada kanvas? Apakah anda menilainya kreatif atau apakah anda  mengerti makna lukisan tersebut? Jika anda menganggapnya sebagai lukisan yang tidak kreatif, lalu kenapa harga dari lukisan-lukisan abstrak itu bisa mencapai puluhan dan ratusan juta rupiah? Ya, jawabannya adalah karena mereka yang menerima menikmatinya dan menilainya sebagai sesuatu yang kreatif dan inovatif. Sehingga jangan menjadi orang yang pesimis untuk meraih predikat “kreatif dan inovatif”. Ini hanya masalah target penerima, jangan takut untuk melihat karya orang lain dengan alasan agar tidak mencontek, namun jadikan karya orang lain itu sebagai masukan dalam pengetahuan diri, untuk memadukannya dengan pengetahuan lain kemudian dicipta untuk menjadi sesuatu yang lebih kreatif dan inovatif menurut para penerimanya.