Indonesia: “Ayo maju, maju…”

Indonesia adalah negara yang memiliki sumber daya alam yang sangat berlimpah. Letak geografis yang sangat strategis, membuat Indonesia menjadi sasaran empuk untuk eksploitasi negara- negara eropa pada zaman kolonial. Dan bahkan pada era globalisasi sekarang ini, Indonesia masih ‘ditempeli’ banyak parasit asing yang sangat menguras SDA kita. Meskipun demikian, pendapatan GDP Negara Republik Indonesia belum bisa mencapai batas negara maju, bahkan tidak mendekati batas tersebut. Seolah-olah tidak ada imbalan yang setimpal dari SDA yang Indonesia punya dan Indonesia kasih ke negara asing. Indonesia belum bisa menjadi negara maju. Namun, Indonesia sangat berpotensi untuk bersaing dengan negara-negara maju.

Jika dipikirkan, mengapa Indonesia sulit untuk mencapai GDP yang dapat menobatkan Indonesia sebagai negara maju? Memang, salah satu ciri negara maju adalah rendahnya tingkat kelahiran dan kematian. Sangat bertolak belakang dengan angka kelahiran di Indonesia yang sangat tinggi. Namun untuk mensejahterakan bayi-bayi yang lahir tersebut, SDA negara Republik Indonesia sudah lebih dari cukup. Lalu bagaimana bisa angka kemiskinan tetap tinggi di Indonesia? “Sumber Daya Alam Indonesia sangat berlimpah.” Sering mendengar atau membaca pernyataan tersebut? Ya, menurut kami, pernyataan itu lah yang justru menghambat Indonesia untuk maju. Mengapa? Karena masyarakat Indonesia jadi ter-orientasi kepada apa yang mereka punya. Mereka menyadari apa yang mereka punya sangat berlimpah, dengan begitu mereka merasa sangat tenang, jauh dari keterpurukan. Karena sudah merasa tenang, ada comfort-zone tercipta dalam pola hidup mereka. Terjebak dalam comfort-zone, kebanyakan masyarakat Indonesia tidak ada usaha untuk menguasai keahlian mengolah SDA. Alhasil, karena pola hidup “yang penting sekarang bisa makan” sudah tertanam, maka kebanyakan SDA kita di jual murah dan begitu saja kepada pihak asing. Hanya sedikit dari masyarakat Indonesia yang dapat mengelola SDA dengan baik dan menjualnya kepada negara sendiri. Sekali lagi, sebagian besar masyarakat Indonesia berorientasi pada apa yang mereka punya. Daripada itu, mengapa tidak beroientasi kepada apa yang mereka harus lakukan.

Ya menurut kami menyadari Sumber Daya Alam Indonesia berlimpah itu penting, namun tidak dijadikan sebagai ‘pernyataan kesejahteraan’. Karena tidak akan berguna SDA itu jika tidak diolah dan dimanfaatkan dengan baik. Untuk itu lebih penting untuk lebih percaya kepada pernyataan “Sumber Daya Manusia Indonesia Berlimpah.” Dengan begitu pemanfaatan SDM di Indonesia bisa lebih efektif dan efisien. Penempatan para pekerja, ahli, dan pemimpin akan sesuai dengan bidangnya. Tidak seperti saat ini, jika melihat beberapa posisi menteri diduduki oleh orang yang kurang tepat (tidak pada ahli bidangnya). Dengan kosentrasi yang baik pada SDM, maka ketenaga-kerjaan dalam pengelolaan SDA akan lebih efektif. Dengan begitu masyarakat Indonesia dapat mengolah SDA-nya sendiri dengan keahliannya sendiri, dan dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia sendiri. Dengan kemandirian tersebut akan mengoptimalkan kegiatan-kegiatan konsumsi, investasi, sistem pemerintahan, dan eksport-import. Semua optimalisasi tersebut akan mendongkrak nilai GDP negara Republik Indonesia secara signifikan. Indonesia akan menjadi negara yang mandiri, sanggup mensejahterakan penduduknya tanpa bantuan dari negara asing yang signifikan, dan dapat berpengaruh bagi banyak negara asing dalam era globalisasi ini. Itulah Indonesia, negara maju. Mari jadikan harapan sang garuda pancasila menjadi nyata “…ayo maju, maju, ayo maju, maju…”

‘KAS KUS’ a business model

 

SCAMPER Method for KASKUS

 

Substitute – Mengganti sistem cendol (2000 post) menjadi 1000 respon atau komentar orang pada 1 post saja.

Combine – menggabungkan kaskus dengan website social media dan entertainment seperti twitter dan 9gag.

Adapt – Mengadaptasi sistem social media dari website-website lain.

Modify – Memodifikasi tampilan layout website kaskus dengan tampilan yang lebih simple dan menarik.

Put to other uses – Membuat kaskus menjadi social media seperti facebook dan twitter.

Eliminate – menghilangkan thread yang mempunyai banyak komentar negative atau mendapat cap “dislike” yang banyak.

Rearrange – mengatur kembali sistem post yang kurang penting seperti “nice info gan”, “sundul gan”, “up dulu up”, “pertamax gan”, dan sebagainya menjadi sistem “like” seperti yang ada di facebook dan youtube.

Super odang

Teringat masa ketika kami sedang mengadakan acara di auditorium SBM satu atau dua tahun lalu dan sesosok hitam datang mengetuk pintu dengan terburu buru.

Bukan setan. Tetap manusia.

‘ini acara sampe jam berapa ya mas?’ sudah hampir pasti keluar dari mulutnya, dan setiap mereka yang menjadi penanggungjawab acara sudah pasti harus menanggapi pertanyaan tersebut dengan uang sejumlah 30 sampai 50 ribu.

Sosok hitam (kulitnya) itulah yang sebenarnya berjuluk odang. Entah benar dirinya diberi nama seperti itu oleh orangtuanya – cukup kejam jika benar – atau seperti yang rumor katakan, bahwa odang berarti ‘otak udang’, maaf.. ‘dagang’

Lalu odang pun pergi

Tanpa ada yang merindu dirinya.

Sekarang, parkiran belakang SBM diawasi oleh beberapa orang yang sosoknya tidak se monumental odang sebelumnya. Mereka cenderung lebih kalem, tidak heboh sendiri jika ada banyak mobil yang parkir hingga terlalu malam. Yang mereka lakukan hanya… meminta uang lembur.

Mungkin karena itu julukan odang tidak bisa hilang, tetap melekat meski yang tadinya hitam kecil dan satu (orang), berubah menjadi gemuk tinggi dan tiga (orang)

Ohya, odang baru cenderung lebih rajin namun bodoh.

Itulah problem yang kami hadapi, dan kemudian berusaha kami selesaikan dengan khayal.

Sebuah parkiran super. Dengan fitur super. Keamanan super. Pengorganisiran yang amat super. Dan tetap dikelola oleh odang, bukan Mario teguh.

Pertama, setiap orang yang datang akan mendapatkan sebuah kartu. Kartu super otomatis yang akan menunjukkan parkiran mana yang kosong, tanpa harus mikir mikir mau markir dimana. Kita bisa membayar dengan kartu ini, berkat barcode yang tersedia, luarbiasa super bukan?

Dari bentuk lahan parkirnya sendiri, tidak lagi seperti sekarang yang banyak spot offroadnya, namun rata dan bergarasi!! Akan ada sekat penutup di setiap ruang parkir yang tepat berukuran satu mobil dan bisa dikunci dengan kartu super yang diberikan di awal. Sehingga tidak mungkin ada kejadian mobil dicuri, kamera hilang, atau kunci mobil ketinggalan di dalam mobil orang lain berkat peminat valet yang terlalu heboh.

Salah satu fitur yang luarbiasa keren meskipun luarbiasa tidak mungkin adalah adanya basement di odang!

Bagaimana cara membuatnya? Bukan urusan kami. tapi yang pasti, dengan adanya basement maka jumlah lahan parkir akan bertambah, dan semua orang senang.

Sistem, dalam penggunaan basement amatlah krusial dan monumental. Diawali dengan pembentukan alur utama, yaitu dibuatnya dua jalur sehingga tidak ada mobil dari dua arah berbeda yang harus bergantian melewati satu jalur. Kemudian, di ujung parkiran ini, dibuat sebuah lift mobil, yang juga berfungsi ganda sebagai pemutar  arah mobil. Jadi ketika pengendara menginjak platform berbentuk bulat di ujung jalan parkir odang, diberikan dua opsi, untuk pergi ke basement (yang membuat platform ini akan turun ke bawah) atau berjalan langsung mencari parkir di sisi kanan (yang membuat platform berputar mengarahkan mobil ke arah berlawanan di jalur lain).

Dengan beberapa fitur tambahan ini, dan berkat segala bentuk otomatisasi dari sistem parkir, maka gerombolan tukang parkir yang kurang cerdik ini tidak lagi berperan terlalu besar, yang berarti mereka tidak berkesempatan merusak hari hari mahasiswa seperti biasanya. Satu satunya pekerjaan kecil dari mereka adalah mereka akan dipakaikan baju dengan banyak kantong untuk menaruh puluhan kunci mobil pengguna fitur valet.

Mereka tidak banyak kerjaan, cenderung gaji buta. Mahasiswa di sisi lain, merasa senang karena tidak harus berurusan dengan segala anomali parkir memarkir. Sebuah sistem yang menyenangkan, namun akankah berhasil?

Mungkin…… kisah cinta penulis cerita ini hanya sekedar khayal

namun tidak begitu untuk kisah parkiran super odang. Akan selalu ada jalan. Akan selalu ada kesempatan. Selama seseorang selalu mau berharap. perasaan akan selalu terjawab.

Ctt: terlihat sosok odang lama di arak arakan wisuda SBM. Mungkin ia datang untuk merealisasikan proyek ini dan membangun kembali rezim lama nya.

Inovasi & Kreativitas

Kreatifitas dan inovasi.

Sebagai pembuka, masing masing definisi linguistik dengan sumber terpercaya mungkin akan lebih baik.

Kreatifitas, adalah suatu fenomena penciptaan hal baru yang bernilai.

Inovasi (dari bahasa latin innovare) berarti proses pembaharuan atau perubahan ke arah positif.

Bagi saya, kreatifitas dan inovasi selalu bermulai dari wadah.

Kedua hal ini membicarakan secara garis besar proses pembaharuan, dan pembaharuan selalu berarti adanya alih fungsi baik amat kecil maupun besar. Wadah, menjanjikan sebuah medium untuk proses ini bisa diberikan subjeknya. Karena kreatifitas dan inovasi adalah bentuk kreasi. Dan kreasi selalu butuh makhluk pelaksana.

Lalu, amat penting untuk keberlangsungan wadah ini, agar kreatifitas bisa menemukan kontekstualisnya. Simpelnya, sebagai mahasiswa SBM kami selalu ditekankan untuk membangun inovasi yang ‘menjual’, kreasi yang layak beli. Pada nyatanya, kelayakan tidak selamanya harus ditelantarkan pada kantong atau selera pasar. Ada pula bentuk kreasi yang patut di apresiasi, tanpa dilabeli harga. Dan harus ada program berkesinambungan yang mampu melakukan silang penghidupan dari kreasi yang diterima dengan baik di masyarakat (menghasilkan banyak uang) pada bentuk lain yang tidak.

Kreatifitas tidak seperti budaya. Budaya menuntu keselarasan dengan masyarakat. Dan ketika sang budaya mulai kehilangan nilai kesesuaiannya, layak saja budaya tersebut ditinggalkan, terganti oleh bentuk lain yang lebih kekinian. Tapi kreatifitas butuh terus disokong kehidupannya. Kepunahan sejenis bentuk bisa berarti berkurangnya ragam, yang kemudian berdampak penuh pada jumlah kolektif keseluruhannya.

Pertama wadah sebagai titik awal, lalu keholistikan sebagai formasi. Itulah kreatifitas dan inovasi. Bukan budaya yang dihitung baik buruknya berdasarkan kesesuaian (tak terikat kuantitas), kreatifitas akan lebih kuat jika secara jumlah lebih banyak, lebih lengkap, dan menjanjikan banyak alternatif.

Kreativitas & Inovasi

Kreatif dan Inovatif seperangkat kata yang kini  mungkin menjadi satu padanan kata. Kami akan mencoba mengartikan kata kreatif dan inovatif. Berikut arti kedua kata tersebut menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia,  kre·a·tif /kréatif/ a 1 memiliki daya cipta; memiliki kemampuan untuk menciptakan; 2 bersifat (mengandung) daya cipta: pekerjaan yg — menghendaki kecerdasan dan imajinasi;

ke·kre·a·tif·an n perihal kreatif.

ino·va·tif a bersifat memperkenalkan sesuatu yg baru; ber-sifat pembaruan (kreasi baru): kita mencoba memecahkan masalah pendidikan yg kronis dng cara-cara -.

Berdasar perngertian dari KBBI dikatakan bahwa arti dari kreatif adalah memilki kemampuan daya cipta. daya cipta akan apa? Semua hal, karena ketika kita mampu menciptakan “sesuatu” bahkan hanya sebuah imajinasi sudah dapat disebut sebagai orang kreatif. Sifat dari kata kreatif  inilah yang ingin kami berikan opini. “Kreatif” sendiri memiliki sifat yang sangat subjektif, bagaimana bergantung pada pandangan setiap individu. Apa yang menjadi standard suatu hal bagi kami akan penilaian ke-kreatifan dengan anda akan berbeda. Mengapa? Karena stadard akan nilai kreatif itu muncul dari pengetahuan dan pengalaman kita. Dan bila muncul pemahaman yang sama antar banyak individu atau kelompok, didasarkan pada pengetahuan dan pengalaman mereka yang hampir sama.

Oleh Karena itu menurut kami kreatif itu muncul ketika kita banyak tahu dan banyak mencoba, karena dengan itu lah kita dapat memiliki masukan dan mengimplementasikannya maka kita akan mendapat pengalaman yang berbeda dan disitulah taraf  kekreatifan akan meningkat.

Kreatif sendiri memiliki kaitan yang erat dengan kata inovatif. berdasar arti dari KKBI adalah sifat memperkenalkan sesuatu yang baru dan bila menjadi kata kerja “inovasi” maka arti dari kata tersebut adalah kemampuan menciptakan sesuatu yang baru. Sama seperti “kreatif”, “inovatif” pun menjadi kata yang subjektif. Karena kata “baru” sangatlah tergantung pada setriap individu, walaupun tetap suatu kelompok dapat memilki pandangan yang sama akan menilai sesuatu yang “baru”.  Kembali pada beberapa individu atau kelompok yang telah memiliki pengetahuan dan pengalaman yang hampir setara/sama. Kata “inovatif” atau “inovasi” menurut kami tidak ada yang murni di bumi ini. Apa para penemu jaman dulu merupakan orang yang paling inovatif? Alexander Graham Bell dikatakan sebagai penemu telepon. Apakah itu benar hanya iya yang mampu berfikir dan mencipta alat yang bernama telepon? Ternyata dari beberapa literatur sekarang muncul perdebatan siapa yang sebenarnya menemukan telepon, dikatakan bahawa ada orang lain yang telah menemukannya sebelum Alexander Graham Bell. Lalu apakah ALexander Graham Bell hanya mempopulerkannya? Tak mungkinkah iya mereka (yang dinyatakan telah menemukan telepon) berada ditempat yang berbeda dan befikir untuk mencipta suatu kreasi dan alat yang sama? Jawabannya sangat memungkinkan! Oleh karena sifat kata “kreatif dan Inovatif” tak akan ada ujungnya bila mencari siapa yang paling kreatif dan inovatif siapa yang terlebih dahulu atau siapa yang mencontek dan siapa yang tidak.

Merangkum pernyataan diatas, solusi dari permasalahan “kreatif dan Inovatif” adalah permasalahan target dari siapa yang akan menerima atau menikmati karya cipta tersebut. Misal kita membawakan gunting pada penduduk suku pedalaman maka kami rasa itu kita akan dianggap sebagai orang yang paling kreatif dan inovatif diantara mereka. Contoh lain, apa pendapat anda mengenai lukisan yang “abstrak” atau berisikan cat yang dicorat-coret pada kanvas? Apakah anda menilainya kreatif atau apakah anda  mengerti makna lukisan tersebut? Jika anda menganggapnya sebagai lukisan yang tidak kreatif, lalu kenapa harga dari lukisan-lukisan abstrak itu bisa mencapai puluhan dan ratusan juta rupiah? Ya, jawabannya adalah karena mereka yang menerima menikmatinya dan menilainya sebagai sesuatu yang kreatif dan inovatif. Sehingga jangan menjadi orang yang pesimis untuk meraih predikat “kreatif dan inovatif”. Ini hanya masalah target penerima, jangan takut untuk melihat karya orang lain dengan alasan agar tidak mencontek, namun jadikan karya orang lain itu sebagai masukan dalam pengetahuan diri, untuk memadukannya dengan pengetahuan lain kemudian dicipta untuk menjadi sesuatu yang lebih kreatif dan inovatif menurut para penerimanya.